Beruntung nggak baca Koran
Sebenarnya dengan kemajuan dunia informasi saat ini bermanfaat tidaknya sama saja.Kita selalu menganggap ketinggalan informasi itu kuno,padahal menurutku orang Indonesia yang paling beruntung adalah yang nggak pernah baca koran,nonton televisi atau radio.Kenapa?sebab orang tersebuttidak usah diprihatinkan dengan berbagai macam kemalangan yang dialami bangsa ini,di koran saja beritanya cukup mngerikan,pesawat jatuh,kapal tenggelam,kereta anjlok,ekonomi terancam runtuh,pengangguran meningkat tajam,dll yang pasti akan membuat kepala kita ikut pusing tujuh keliling.
Setiap hari kita kemasukan berita buruk terus sampai berita baik pun seakan-akan tenggelam,malah kita jadi memikirkan hal-hal yang jauh diseberang sana seperti berita penurunan bendera di Aceh,padahal seharusnya bukan kita yang harus memecahkannya.Karena itu kayaknya enak juga menjadi orang pedalaman,mereka cuma memikirkan lingkungan suku dan keluarganya,tidak harus di pusingkan oleh berbagai macam tetek bengek.
Karena itu penulis salut sama suatu komunitas pedalaman yang menolak bantuan TV.Dulunya penulis pikir tv dapat membuka cakrawala informasi sehingga menolak informasi sama saja dngan bodoh.Tapi sekarang coba pikir apabila bantuan TV tersebut diterima kalau positifnya msuk tidak apa-apa,tapi kan yang negatif juga banyak contohnya iklan,nggak ada yang salah dengan iklan.Cuma iklan menampilkan apa yang kita tidak selalu butuhkan,terjadilah yang namanya budaya konsumerisme,suatu barang yang sebenarnya tidak penting menjadi seolah-olah penting.Setelah HP monokrom lalu kita di anggap ketinggalam jaman kalau nggak pakai PDA padahal toh fungsi utamanya tetap untuk menelepon.Bagi suku pedalaman yang tidak memiliki pelampiasan dari iklan konsumtif (karena pasti tidak ada mal di pedalaman) dapat menyebabkan perubahan budaya ,mungkin juga terjadinya urbanisasi.
Penulis bukan anti konsumerisme total,konsumsi yang terarah misalnya membeli produk dalam negeri justru dapat menggerakkan perekonomian nasional,tapi bila konsumsi barang-barang impor malah tidak akan bernilai tambah bagi kita.Kembali ke informasi.Semakin banyak penulis membaca koran,menonton televisi,berselancar di internet,tetap saja yang muncul rasa keprihatinan.Ingin rasanya lepas dari ketergantungan ini (setidaknya sampai kondisi negra membaik),nggak beli koran,nggak nonton TV,nggak buka website,tapi lagi-lagi usaha itu gagal,mungkin karena aku sudah berada di masyarakat yang dibentuk informasi kali ya????
Setiap hari kita kemasukan berita buruk terus sampai berita baik pun seakan-akan tenggelam,malah kita jadi memikirkan hal-hal yang jauh diseberang sana seperti berita penurunan bendera di Aceh,padahal seharusnya bukan kita yang harus memecahkannya.Karena itu kayaknya enak juga menjadi orang pedalaman,mereka cuma memikirkan lingkungan suku dan keluarganya,tidak harus di pusingkan oleh berbagai macam tetek bengek.
Karena itu penulis salut sama suatu komunitas pedalaman yang menolak bantuan TV.Dulunya penulis pikir tv dapat membuka cakrawala informasi sehingga menolak informasi sama saja dngan bodoh.Tapi sekarang coba pikir apabila bantuan TV tersebut diterima kalau positifnya msuk tidak apa-apa,tapi kan yang negatif juga banyak contohnya iklan,nggak ada yang salah dengan iklan.Cuma iklan menampilkan apa yang kita tidak selalu butuhkan,terjadilah yang namanya budaya konsumerisme,suatu barang yang sebenarnya tidak penting menjadi seolah-olah penting.Setelah HP monokrom lalu kita di anggap ketinggalam jaman kalau nggak pakai PDA padahal toh fungsi utamanya tetap untuk menelepon.Bagi suku pedalaman yang tidak memiliki pelampiasan dari iklan konsumtif (karena pasti tidak ada mal di pedalaman) dapat menyebabkan perubahan budaya ,mungkin juga terjadinya urbanisasi.
Penulis bukan anti konsumerisme total,konsumsi yang terarah misalnya membeli produk dalam negeri justru dapat menggerakkan perekonomian nasional,tapi bila konsumsi barang-barang impor malah tidak akan bernilai tambah bagi kita.Kembali ke informasi.Semakin banyak penulis membaca koran,menonton televisi,berselancar di internet,tetap saja yang muncul rasa keprihatinan.Ingin rasanya lepas dari ketergantungan ini (setidaknya sampai kondisi negra membaik),nggak beli koran,nggak nonton TV,nggak buka website,tapi lagi-lagi usaha itu gagal,mungkin karena aku sudah berada di masyarakat yang dibentuk informasi kali ya????
Comments