Apa itu Rembang?
Semuanya serba dadakan, MAK baru ngajak ke Rembang sehari sebelumnya, nggak ada persiapan sama sekali jadi agak bingung juga, katanya sih mau survey. Rembang aja aku nggak tahu, diliat dari peta Rembang ada setelah Pati dan merupakan perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Parahnya lagi ternyata diantara 5 orang (Yoyon, MAK, Aku, Hanik, dan Sabat) ga ada yang tau kondisi Rembang. Dulu mungkin aku waktu ke Bali lewat kota ini tapi sekarang sudah lupa. Jadilah kita dengan hanya berbekal Papan Petunjuk Jalan (oh betapa bergunanya sekarang...) sampailah kita di Rembang. Weiitz nggak segampang itu daripada kenyataannya, bayangkan saja jalan 2 lajur dalam keadaan hancur (aspal mengelupas akibat banjir) dilewati oleh berbagai jenis kendaraan baik itu kendaraan roda dua atau kendaraan Heavy Duty macam Truk tronton dan Bis. Jalannya lebih ngeri disini sama di Semarang, at least Semarang punya 4 jalur!Pengerjaan jalan dengan hotmix sedang digalakkan disana tapi sayang ga segencar Semarang-Kudus, baru satu lajur dan itu mungkin baru kelar 1/5 nya. Kerikil yang bertebaran bikin berkendara semakin jantungan sebab ketika berjalan diatas kerikil ban motor seperti nggak nempel lagi di jalan tetapi meluncur begitu aja.
Sampai di Rembang agak lumyan coz jalannya jadi 4 lajur, mungkin disinilah jeleknya Pantura sebab jalannya ga konsisten, ada yang lebar ada juga yang sempit, kalo menurutku sih jalan tol trans jawa pantas sekali dibangun biar ga jantungan disalib sama bus dan truk segala. Pertama kita beli peta dulu baru cari penginapan. Yak cuma dari peta itulah kita menjelajah Rembang, sampai di penginapan kita bentangkan tuh peta yang memang lebar banget di lantai buat cari kecamatan-kecamatan, wuih kayak para jenderal yang mau adu strategi mau dimana nempatin pasukannya. Aku ga bisa ngomong apa aja kerjaan kita, pokoknya capek aja. Berangkat jam 10 trus sampai malem jam 9. Pengalaman paling berkesan ya pas kita cari menjelajah sampai ke pelosok desa, Pamotan Sluke, Kragan, Sedan, Gunem, seperti touring aja melewati daratan gersang, tepian laut, hutan yang sepi, kebun Melon disini kita dikasih melon 2). Beberapa desa sangat sepi sekali sampai kalau kita matiin lampu motor ga keliatan apa-apa (iseng banget ya). Lebih serem lagi pas kita lewat Kragan trus ke Sluke-Lasem-Rembang. Ini jalur pantura yang paling berbatasan dengan laut, tapi karena gelap kita baru nyadar kalau di kanan itu laut. Jalurnya nyeremin juga, cuma 2 lajur sebelah kiri jelek dan temen kita selama perjalanan cuma truk dan kendaraan berat lainnya.
Jadwalnya agak molor juga dari rencana 3 hari jadi 4 hari, pulangnya hawanya kacau banget soalnya aku hampir aja ketabrak bus, ceritanya di depan ada truk tronton dari arah berlawanan ada bus, temenku salib duluan sukses, aku jadi terpancing, eh nggak tahunya aku salah perhitungan, MAK yang bonceng di belakang sudah histeris lho...Untungnya saat itu aku tenang. Aku menganalisis 3 kemungkinan
1. Menggeber gas sekencang-kencangnya dengan perkiraan mepet banget
2. Banting setir ke kanan jalan
3. Ngerem penuh lalu balik ke belakang truk.
Akhirnya aku pilih opsi GEBER GAS kenceng-kenceng, alhamdulillah bisa nglewatin juga, kalau sekian detik aja terlambat bisa ketabrak bus, coz kita berhasil menyelinap di celah-celah antara bus dan truk. Si MAK kayaknya shock banget, belakangan aku juga shock, kaki lemes, badan nggak enak. Mungkin sampai shocknya aku nggak inget detail bagaimana kita bisa lolos dari maut tersebut...Hiks...Alhamdulillah
Sampai di Rembang agak lumyan coz jalannya jadi 4 lajur, mungkin disinilah jeleknya Pantura sebab jalannya ga konsisten, ada yang lebar ada juga yang sempit, kalo menurutku sih jalan tol trans jawa pantas sekali dibangun biar ga jantungan disalib sama bus dan truk segala. Pertama kita beli peta dulu baru cari penginapan. Yak cuma dari peta itulah kita menjelajah Rembang, sampai di penginapan kita bentangkan tuh peta yang memang lebar banget di lantai buat cari kecamatan-kecamatan, wuih kayak para jenderal yang mau adu strategi mau dimana nempatin pasukannya. Aku ga bisa ngomong apa aja kerjaan kita, pokoknya capek aja. Berangkat jam 10 trus sampai malem jam 9. Pengalaman paling berkesan ya pas kita cari menjelajah sampai ke pelosok desa, Pamotan Sluke, Kragan, Sedan, Gunem, seperti touring aja melewati daratan gersang, tepian laut, hutan yang sepi, kebun Melon disini kita dikasih melon 2). Beberapa desa sangat sepi sekali sampai kalau kita matiin lampu motor ga keliatan apa-apa (iseng banget ya). Lebih serem lagi pas kita lewat Kragan trus ke Sluke-Lasem-Rembang. Ini jalur pantura yang paling berbatasan dengan laut, tapi karena gelap kita baru nyadar kalau di kanan itu laut. Jalurnya nyeremin juga, cuma 2 lajur sebelah kiri jelek dan temen kita selama perjalanan cuma truk dan kendaraan berat lainnya.
Jadwalnya agak molor juga dari rencana 3 hari jadi 4 hari, pulangnya hawanya kacau banget soalnya aku hampir aja ketabrak bus, ceritanya di depan ada truk tronton dari arah berlawanan ada bus, temenku salib duluan sukses, aku jadi terpancing, eh nggak tahunya aku salah perhitungan, MAK yang bonceng di belakang sudah histeris lho...Untungnya saat itu aku tenang. Aku menganalisis 3 kemungkinan
1. Menggeber gas sekencang-kencangnya dengan perkiraan mepet banget
2. Banting setir ke kanan jalan
3. Ngerem penuh lalu balik ke belakang truk.
Akhirnya aku pilih opsi GEBER GAS kenceng-kenceng, alhamdulillah bisa nglewatin juga, kalau sekian detik aja terlambat bisa ketabrak bus, coz kita berhasil menyelinap di celah-celah antara bus dan truk. Si MAK kayaknya shock banget, belakangan aku juga shock, kaki lemes, badan nggak enak. Mungkin sampai shocknya aku nggak inget detail bagaimana kita bisa lolos dari maut tersebut...Hiks...Alhamdulillah
Comments