......

Bagaimana kalau anda punya tetangga yang selalu bertengkar dan anda ingin mendamaikannya.Anda kenal satu teangga tetapi tidak kenal satunya,anda malah tidak mau mengenal mereka.Nah bagaimana anda bisa meyakinkan kedua belah pihak agar bertemu.Tetangga yang tidak kenal anda pasti tidak akan percaya dengan tawaran perjanjian anda.Itu tadi hanya perbandingan kalau kita ingin memenangkan diplomasi kita juga harus mengetahui pikiran dan perasaan lawan kita,atau kata pepatah dekati kawanmu dan lebih dekat lagi dengan musuhmu.
Hal ini tepat kalau mengomentari kedatangan parlemen Israel (yang tidak jadi).Kita tidak memiliki diplomasi dengan merekatapi kita ingin menyampaikan usulan perdamaian dengan mereka...Bagaimana bisa...diplomasi harus ada komunikasi dua pihak.Kalau kita malah menutup diri dan tidak melakukan diplomasi malah kita akan gagal total.Boleh lah kalau kita pengen menjadi Ahmadinajed yang berani melawan dunia barat,tapi apa kita siap menerima pengucilan dari dunia internasional.Karena bagaimanapun Israel sudah diterima di dunia Internasional.Menjadi radikal sih boleh-boleh saja asal itu tidak membahayakan posisi kita di dunia.Lihatlah sekeliling militer kita terseok-seok,diplomasi kita buruk,ketergantungan pada impor tinggi,BBM pun masih impor.Menghadapi suatu negara tidak harus dengan sikap yang frontal,kadang dalam diplomasi kita harus rela menerima kekalahan untuk mendapatkan kemengan nanti.Masih ingat diplomasi kita dengan Belanda dulu,diplomasi kita dengan Belanda dengan dunia internasional cukup membantu kemenangan perjuangan kita dalam memerdekakan Indonesia.Bagaimana kalau kita tidak mau berhubungan dengan sama sekali dengan Belanda saat itu?????

Comments

Popular Posts